Budaya, Mitos, Kisah Klenik Suku Tidung Kalimantan Timur

Ketika kita masih kecil dan masih bermain kesana-kamri tanpa kenal lelah, kita pasti pernah mendengarkan dari orang tua kisah mistis atau hal menyeramkan. Baik benar maupun tidak, cerita ini dikemukakan secara turun temurun oleh orang tua dengan tujuan, biasanya tuk menakuti anak-anaknya supaya patuh. Legenda hantu pada berbagai karakter unik dan seram kemudian berkembang luas jadi mitos di kawanan atau komunitas tertentu.

Di Indonesia, kisah legenda dan mitos secara luas diketahui diantaranya ialah sundel bolong, leak, genderuwo, jelangkung, Jelangkung, kuntilanak dan kadang yang ditiru orang modern ialah kolor ijo. Mitos hantu ini dikisahkan dengan banyak variasi terserah premis dan budaya lokal. Tergolong juga tidak sedikit produser film Indonesia yang sangat kreatif menciptakan karakter genre hantu yang terkenal serta memamerkan sensualitas semacam pocong muka pengen, suster ngesot, suster keramas dan banyak sekali film lain dengan judul-judul yang makin konyol dan anehnya, tidak sedikit yang nonton. Hantu-hantu buatan Brother Punjaabi ini sukses membuat hantu-hantu asli Indonesia binasa dan tak dijadikan film.

Suku Tidung, etnis asli yang menghuni pesisir utara Kalimantan sampai Sabah Malaysia pun memiliki sejumlah cerita mistis yang dikisahkan secara turun temurun dikomunitas itu sampai saat ini. Bagi generasi saat ini, legenda dan karakter hantu yang dikisahkan oleh orang tua itu amat membumi dan menggelorakan imajinasi, apa benar legenda ini berlangsung, apakah hantu ini seram seperti yang dibayangkan. Bila dilegenda barat kalian kenal karakter seram semacam drakula, troll, dan tokoh fiksi jahat yang dibuat lewat imajinasi John Ronald Reuel Tolkien didalam buku Lord of the Ring, maka di suku Tidung, mereka diceritakan hantu Siad, Tumber Bauk, Puntianak, Balan, Jernun, serta Perakang, yang pula banyak dikenal didalam legenda hantu dikomunitas bugis dan melayu. Karakter-karakter seram itu diceritakan tinggal didalam air dan hutan sesuai dengan kawasan tempat tinggal orang asli Kalimantan. Tahun 1980-an, biasa memandangi potongan ikan hiu gergaji dibalik pintu rumah dan daun kelor yang disebut dapat mengusir roh jahat.

Berikut ialah sejumlah jenis hantu yang kerap diceritakan oleh orang tua Tidung zaman dulu:

Siad

Siad merupakan sosok seram yang muncul kepada waktu hari mendung ketika hujan ingin turun. Setiap orang tua suka mengingatkan anaknya mengenai sosok menakutkan yang menanti mereka jika keluar rumah didalam cuaca sedang mendung.

Tumber Bauk

Tumber Bauk versi orang tua dahulu bentuknya seperti sapi yang cuma keluar di tengah malam wabil khusus malam jumat.

Bebalan

Bebalan merupakan sosok mahluk halus yang hanya cari darah apabila di malam jumat, setiap orang tua mengkisahkan mereka bakal berdiam dibawah tempat tidur.

Andau

Andau punya kaki terbalik yang tinggal dibelakang rumah. Orang tua zaman dulu sering memperingaktan anaknya supaya tak keluar malam terutama saat didalam hutan. Ada pula versi lain dari hantu Andau yakni dia sering didengar menangis keras dari sebuah tempat tanpa terlihat orang. Orang Tidung dulu bila mendadak seorang anak menangis ketika sedang tidur maka banyak terlontar kata-kata “anja-anja andau”.

Puntianak

Puntianak, semacam karakter umum yang pun dikenal di suku lain dari Indonesia, diketahui mencari wanita yang tengah hamil tua tuk diambil janin bayinya. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa Puntianak menetap dipohon yang banyak sekali benalu dan berusaha menemukan anak perempuan berambut panjang yang tak diikat tuk dijadikan anak.

Perakang

Perakang diidentifikasi sebagai mahluk halus mata merah dengan gigi taring dan wajah berdarah-darah. Perakang ini diyakini dapat diusir dengan menggunakan daun kelor.

Aki Ungkung

Aki Ungkung merupakan sosok yang kerap berkeliaran ketika maghrib dan gemar berbaring di kasur tanpa terlihat orang. Orang tua mengkisahkan hantu tak terlihat ini kepada anaknya apabila masih main saat Magrib datang.

Sitan Tengkayu

Sitan Tengkayu merupakan sosok hantu yang tinggal dipinggir laut kedalam hutan Mangrove.

Komunitas Tidung tempo dulu mempunyai beberapa budaya klenis antara lain persembahan bagi mahluk halus yang disebut Kelangkang. Kelangkang ini merupakan suatu anyaman dari bambu yang diatasnya ditampung beras merah, hijau, ayam, pisang dan juga tembakau. Umumnya Kelangkang ini ditempatkan di sebuah hutan yang disebut berdiamnya mahluk halus dengan harapan kesembuhan dan tolak bala. Budaya lain yang diketahui didalam komunitas suku Tidung ialah upacara Besitan yang mana rutinitas ini diprioritaskan tuk permohonan kesembuhan untuk seorang yang tengah sakit parah yang diyakini sedang di usik oleh mahluk halus. Upacara ini bergulir amat mistis dengan tabuhan gendang juga irama makin lama makin keras. Kala ini, rutinitas Kelangkang dan Besitan cuma bagian dari upacara adat.

Orang-orang Tidung pun tahu cerita rakyat dari cerita orang tua secara turun-temurun antara lain yang sangat terkenal ialah Ibenayuk, Jelutung dan yang lainnya. Ada sejumlah bukti dimana cerita orang tua ini pernah berlangsung dimasa lalu.

Benar atau tidaknya, sejumlah kisah dan legenda hantu ini jika dijelaskan dengan logika, yang terang pola pengasuhan orang-orang Tidung zaman dulu amat dipengaruhi oleh kondisi alam, yang mana selalu banyak resiko yang dapat terjadi pada anak mereka jika pergi tanpa didampingi oleh orang tua, semacam tenggelam, nyasar di hutan.

Orang-orang Tidung yang lalu amat erat kehidupannya dengan laut, berburu buaya, mendapatkan hasil hutan normalnya sarang burung dan madu dan telah amat jelas mereka kerap melihat binatang buas. Disamping itu, penjelasan logis lain dari munculnya larangan-larangan beraktivitas di waktu tertentu misalnya malam jumat, magrib dimaksudkan supaya orang-orang Tidung yang mayoritas muslim tuk lebih tekun menjalankan aktivitas keagamaan seperti mengaji dan shalat.